
Ceritaku Hari Ini
Mengalir halus menulusup dari
lubang-lubang jendela yang
terbuat dari pohon kelapa,
angin menusuk-nusuk kulitku
laksana susur-susur batang
kelapa menancap telapak kaki kala kecil dulu.
Tubuhku semakin meringkuk
dalam dekapan sarung disudut
ruangan. Menahan dingin
sekaligus menahan lilitan
lambung: lapar. Disisa tenaga dan kesadaran,
syaraf otakku mencari jawab
dari alarm yang terus
berkumandang dari kontraksi
lambung. Deru knalpot dan
gas kendaraan yang seakan tanpa henti
membelah
kesunyian jalan Ahmad Yani
itu tak mampu mengalihkan
kesadaran telingaku dari
raungan lambung. Aku lapar,
itu kesimpulannya. Aroma sate di sudut timur
jalan Jaksa Agung Suprapto
menyeruak dalam memori.
Berpadu dengan kenangan
kental kaldu soto Surabaya
tak jauh dari sana. Tambah mengeruk-ngeruk
perut. Kerukan-kerukan perut juga melempar jauh
ke perempatan
lampu merah Letkol Istiqlal.
Keriuk rempeyek dan
pecelnya bertalu-talu. Atau
sepincuk penuh pecel madiun
di sekitar MT Hariyono. Asyirut. Mie ayam
ditikungan selatan
hotel Warata juga ikut
nimbrung. Menyusul
bayangan Mie ayam
Purwoharjo disekitar stadion. Aku beranjak
bangun. Akan
kutanaikan hasrat alamiah ini.
Kuraih tas abu-abu tak jauh
dari tempat berbaring. Aku
raih lembaran uang. Lantas
aku hitung. Begitu menyeramkan. Lima golok
Patimurra yang tampak.
Pantas saja yang lain pada
kabur, gumamku melihat
uang yang hanya segitu. Dengan penuh
semangat,
menghapus semua kenangan
nikmat, kaki mengalun sahdu
ke warung Pak Ndut tak jauh
dari tempat tinggalku. "Es teh
Pak Ndut." ujarku sambil membuka nasi bungkus
dengan lauk udang goreng
tepung tiga biji.
Alhamdulillah..
Mengalir halus menulusup dari
lubang-lubang jendela yang
terbuat dari pohon kelapa,
angin menusuk-nusuk kulitku
laksana susur-susur batang
kelapa menancap telapak kaki kala kecil dulu.
Tubuhku semakin meringkuk
dalam dekapan sarung disudut
ruangan. Menahan dingin
sekaligus menahan lilitan
lambung: lapar. Disisa tenaga dan kesadaran,
syaraf otakku mencari jawab
dari alarm yang terus
berkumandang dari kontraksi
lambung. Deru knalpot dan
gas kendaraan yang seakan tanpa henti
membelah
kesunyian jalan Ahmad Yani
itu tak mampu mengalihkan
kesadaran telingaku dari
raungan lambung. Aku lapar,
itu kesimpulannya. Aroma sate di sudut timur
jalan Jaksa Agung Suprapto
menyeruak dalam memori.
Berpadu dengan kenangan
kental kaldu soto Surabaya
tak jauh dari sana. Tambah mengeruk-ngeruk
perut. Kerukan-kerukan perut juga melempar jauh
ke perempatan
lampu merah Letkol Istiqlal.
Keriuk rempeyek dan
pecelnya bertalu-talu. Atau
sepincuk penuh pecel madiun
di sekitar MT Hariyono. Asyirut. Mie ayam
ditikungan selatan
hotel Warata juga ikut
nimbrung. Menyusul
bayangan Mie ayam
Purwoharjo disekitar stadion. Aku beranjak
bangun. Akan
kutanaikan hasrat alamiah ini.
Kuraih tas abu-abu tak jauh
dari tempat berbaring. Aku
raih lembaran uang. Lantas
aku hitung. Begitu menyeramkan. Lima golok
Patimurra yang tampak.
Pantas saja yang lain pada
kabur, gumamku melihat
uang yang hanya segitu. Dengan penuh
semangat,
menghapus semua kenangan
nikmat, kaki mengalun sahdu
ke warung Pak Ndut tak jauh
dari tempat tinggalku. "Es teh
Pak Ndut." ujarku sambil membuka nasi bungkus
dengan lauk udang goreng
tepung tiga biji.
Alhamdulillah..
Comments
Post a Comment