*Pengusaha dilarang Putus Asa

Seorang teman, yang sudah menikah dan
punya anak, dengan sisa uang terakhirnya
sebesar 11 juta, mencoba bermain trading
valas melalui internet. Saya kebetulan
berkunjung ke rumahnya, dan karena saya
tertarik dengan hal-hal yang baru, saya pun
mengamati apa yg dilakukan teman saya itu
selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama dan
kedua, berjalan luar biasa, dan wow, teman
saya berhasil meraup untung 1 juta per hari..
Hari ketiga, ia melakukan kesalahan fatal, dan
kehilangan semua uang terakhirnya..
Teman saya yang lain, mencoba membuka
usaha restoran di Jakarta.. Ia punya konsep
rumah makan yang bagus, lokasi yang
strategis di sebuah mall di Jakarta, harga
makanan yang tidak terlalu mahal, dan
berdasarkan semua perhitungan yang ia
lakukan, usahanya ini seharusnya akan
sukses.. Maka ia mengundurkan diri dari
pekerjaannya di bank yang sudah cukup
mapan, dan dengan percaya diri menginjakkan
kakinya ke dunia wirausaha.. Apa yang terjadi?
Restorannya sepi. Ia mencoba
mempertahankannya, sambil berharap pada
kata pepatah “semua akan ramai pada
waktunya..” (ngarang mode on) Sayang,
keuangan yang defisit terus menerus,
membuat dia harus menutup restorannya di
bulan ke 11, dan mulai mencari-cari pekerjaan
lagi..
Teman saya bermain badminton malah
menghadapi kehancuran yang lebih parah.. Dia
pernah bekerja di toko komputer, dan akhirnya
memutuskan untuk membuka usaha komputer
sendiri.. Selama 2 tahun usahanya berjalan
sangat bagus, sehingga ekonomi keluarganya
meningkat dengan pesat.. Tapi, hanya karena
tertipu dalam satu transaksi saja, ia pun
bangkrut habis-habisan, bahkan rumah
mertuanya pun harus disita untuk membayar
hutang-hutangnya.. Saat ini, dia kembali
bekerja, menjadi supir di sebuah perusahaan
ekspedisi..
Sebenarnya, apa sih itu investasi? Kalau
secara awam, mungkin bisa kita katakan,
bahwa investasi adalah mengorbankan sesuatu
(waktu, uang, tenaga, fikiran, dll) dengan
mengharapkan sesuatu yang lebih besar.. Dari
serangkaian kisah kegagalan di atas, seringkali
kita menyimpulkan hal yang salah, bahwa
investasi yang telah dilakukan teman-teman di
atas, adalah kesia-siaan..
Yuk kita ambil contoh investasi yang nyata:
sekolah. Apa kira-kira tujuan kita bersekolah?
Saya rasa sebagian besar dari kita akan
menjawab: “untuk mendapatkan pekerjaan
yang bagus, gaji yang besar, jadi kaya raya,
dan mati masuk surga”. Nah, dengan harapan
seperti itu, kita bersedia menginvestasikan
kira-kira 18 tahun dari usia hidup kita untuk
jungkir balik belajar segala macam di sekolah,
dari SD sampai sarjana.. Itu baru dari segi
waktu.. Berapa banyak uang yang kita
habiskan untuk bersekolah? Puluhan juta? Jika
dihitung dari SD sampai sarjana, saya yakin
rata-rata kita sudah menghabiskan ratusan
juta rupiah, bahkan mungkin milyaran rupiah,
jika kita memilih sekolah-sekolah bagus dan
universitas unggulan.
Pertanyaannya: setelah kita menginvestasikan
belasan tahun, dan ratusan juta rupiah, berapa
lama kita balik modal setelah lulus? Ada ga
yang berhasil balik modal di tiga tahun
pertama (jika kita tidak melalui fase
pengangguran dulu)? Belum lagi jika kita
menghitung pengeluaran kita selama bekerja..
Dan berapa banyak yang bekerja tidak sesuai
dengan bidang yang ia pelajari di waktu
kuliah? Jadi, apakah investasi kita bersekolah,
menjamin kita sukses?
Nah, jika kita bersedia menginvestasikan
waktu belasan tahun dan ratusan juta rupiah
untuk sesuatu yang tidak pasti, kenapa kita
tidak berani menginvestasikan hal yang sama
untuk membuka usaha? “Buka usaha kan
belum pasti berhasil mas.. Iya kalau berhasil..
Kalau gagal gimana?” Iya, betul. Tapi,
memangnya ada investasi yang pasti
menguntungkan? Jika memang ada, pasti
semua orang akan berinvestasi di bidang itu..
Dan, sering kali kita keliru menganggap
membuka usaha itu mudah: kita
menginvestasikan uang, waktu dan tenaga
dalam waktu setahun dua tahun, lalu uang itu
akan kembali dengan sendirinya.. Kita lupa,
bahwa, untuk semua bidang, kita juga harus
belajar, agar bisa menjadi yang terbaik di
bidang itu..
Susi Susanti, sudah diakui sebagai salah satu
pemain bulu tangkis yang terbaik.. Tapi
sebelum dia menjadi yang terbaik, dan telah
mendapatkan banyak uang dari profesinya,
apakah kita mengira dia langsung terjun ke
bulu tangkis dalam waktu setahun, dengan
bawa modal besar, lalu tiba-tiba jadi sukses?
Kita sering lupa bahwa, Susi Susanti telah
banting tulang semenjak ia kecil, latihan siang
malam, menginvestasikan waktu, bahkan juga
uang yang tidak sedikit, untuk belajar bermain
bulutangkis.. Apakah dia sudah yakin sejak
kecil bahwa dia akan jadi pebulu tangkis hebat
kelak? Bahwa investasinya tidak akan sia-sia?
Saya yakin tidak. Tapi dia terus berusaha, dan
dia sudah memetik hasilnya..
Nah, kembali ke dunia usaha: kita juga sering
menganggap usaha itu hanya butuh investasi
uang. Kita kontrak bangunan, kita isi dengan
barang-barang, kita rekrut pegawai, potong
kambing, pasang karangan bunga, dan sim
salabim: tiba-tiba kita punya pemasukan
besar, dan menjadi pengusaha sukses.. Jika
kemudian impian kita kandas, kita langsung
menyimpulkan weton kita yang keliru, atau
dukun kita kalah ama dukun toko sebelah..
Kita sering kali lupa proses belajarnya.. Untuk
menjadi pengusaha yang hebat, kita harus
belajar banyak..
Itulah mengapa, sering kali usaha yang
diwariskan ke anak, jadi hancur berantakan..
Sang ayah sukses mendirikan usaha, dan
usaha itu sudah berjalan sedemikian bagus,
hingga seolah-olah akan terus maju walau
pimpinan perusahaan diserahkan kepada office
boynya.. Tapi ternyata begitu diserahkan ke
anaknya, perusahaan itu jadi oleng, termehek-
mehek, bahkan ambruk.. Sang ayah hanya
mewariskan usahanya, tapi lupa mewariskan
hal-hal yang lebih penting: pengetahuan
tentang dunia usahanya, dan, lebih dari itu,
mental wirausahanya.. Banyak sekali
pengusaha yang sukses malah memanjakan
anak-anaknya secara berlebihan, menjauhkan
anaknya dari segala masalah, sementara
pengusaha yang baik, justru muncul dari
tempaan masalah yang berat..
Banyak juga dari kita yang malas belajar,
hingga akhirnya tergiur iming-iming investasi di
berbagai perusahaan abal-abal, yang
menjanjikan keuntungan per bulan yang jauh di
atas bunga bank.. Kita ingin hasilnya, tapi
sering kali kita bahkan tidak mau belajar lebih
rinci tentang detail bisnis yang ditawarkan,
kredibilitas perusahaan yang ditawarkan,
bahkan kita terlalu malas untuk belajar apakah
pembagian keuntungan yang diberikan masuk
akal atau tidak.. Hingga setiap tahun ada saja
ribuan orang yang tertipu dengan investasi
bodong, dan, herannya, ribuan orang
berikutnya, tetap tidak belajar..
Akhirnya, jika kita pernah gagal membangun
bisnis, dan kehilangan banyak uang, selamat:
itu bagian dari pelajaran menjadi pengusaha..
Susi Susanti juga tidak menang terus
menerus.. Saya ga kebayang jika Susi terus
mutung dan gantung raket hanya karena kalah
berturut-turut 5x di masa awal karirnya..
Kadang kita memang harus kalah dulu, agar
lebih mengerti tentang dunia usaha.. Di usaha
berikutnya lah, kita baru berhasil.. Maka
kebangkrutanpun, bisa dipandang sebagai
investasi.. Dan investasi kita itu, tidak pernah
sia-sia, jika kita belajar darinya... Dan ingatlah,
yang seringkali menentukan keberhasilan
investasi kita bukanlah jenis usaha kita, ,
sestrategis apa lokasi usaha kita, atau
bahkan seberapa besar modal yang kita
tanam.. Keberhasilan investasi kita, justru
ditentukan oleh: apakah kita juga berinvestasi
ke ujung tombak usaha kita: diri kita sendiri..
Berinvestasi uang dalam bidang usaha tanpa
mau belajar, sama seperti kita ingin jadi
pemain basket hebat, dimana kita membeli
seragam, bola basket, ring basket, bahkan
lapangan basket sekaligus, tanpa pernah mau
belajar bermain basket yang baik..

Comments

Popular posts from this blog